DIGTALPOS.com, Bontang – Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, melakukan kunjungan kerja mendadak ke Kota Bontang, Kalimantan Timur, Sabtu (7/2/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau langsung kelayakan Kota Taman (sebutan Bontang) dalam ajang penilaian Adipura Tahun 2026.
Rombongan Menteri LH tiba di Kota Bontang sekitar pukul 15.20 WITA. Tanpa seremoni penyambutan resmi, Hanif langsung menyambangi Pasar Taman Citra Loktuan. Di pasar tersebut, Hanif tak hanya meninjau kondisi kebersihan area perdagangan, namun juga mengecek langsung sistem pengelolaan sampah dan limbah yang dihasilkan para pedagang.
Menurut Hanif, pasar tradisional menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian Adipura karena merupakan pusat aktivitas masyarakat yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar setiap harinya.
Usai dari pasar, Menteri LH melanjutkan peninjauan ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Loktuan. Di lokasi ini, Hanif menanyakan secara langsung kepada petugas keamanan mengenai pola pengelolaan sampah penghuni rusun, mulai dari pemilahan hingga pengangkutan sampah harian.

Tak puas sampai disitu, Menteri Hanif kemudian menyambangi permukiman di atas laut Selambai, salah satu kawasan padat penduduk di Bontang. Di sana, ia terlihat bercengkrama langsung dengan warga, menanyakan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga, khususnya sampah plastik yang berpotensi mencemari laut.
Momen menarik terjadi ketika Hanif menyapa seorang warga yang berada di atas perahu sambil menyerok sampah di perairan. Ia bahkan menanyakan secara detail jadwal pembersihan serta luasan area laut yang rutin dibersihkan oleh warga setempat.
Dalam keterangannya kepada awak media, Hanif mengungkapkan bahwa dari 471 kabupaten/kota di Indonesia yang dinilai pada tahun ini, Kota Bontang termasuk daerah dengan nilai tinggi dan memiliki peluang besar meraih penghargaan Adipura. Hal inilah yang mendorong dirinya bersama tim Kementerian Lingkungan Hidup turun langsung ke lapangan.
“Kami sengaja melakukan kunjungan ini secara mendadak dan tanpa pendampingan, agar penilaian benar-benar objektif. Kami ingin melihat secara nyata mana kota yang benar-benar bersih dan mana yang masih kotor, tanpa rekayasa,” ujar Hanif.
Kendati begitu, Hanif menegaskan bahwa masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang perlu dibenahi Pemerintah Kota Bontang, khususnya dalam meningkatkan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Namun ia tetap memberikan apresiasi atas upaya Pemkot Bontang yang dinilai cukup berhasil menjaga kebersihan di jalan-jalan protokol, rusunawa, serta kawasan pasar.
“Hasil penilaian ini akan kami sampaikan secara tertulis. Untuk penghargaan Adipura sendiri akan diserahkan pada peringatan Hari Sampah Nasional Tahun 2026,” jelasnya.

Menurut Hanif, penghargaan Adipura bukan sekadar simbol, melainkan cerminan kemampuan suatu daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, sekaligus mengukur tingkat kesadaran masyarakatnya.
“Budaya mengelola sampah itu sangat penting. Ini bagian dari upaya kita memastikan Indonesia siap menjadi negara maju,” ungkapnya.
Hanif juga menyoroti kondisi darurat sampah yang saat ini terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Kota Bontang. Oleh sebab itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah mendeklarasikan Gerakan Indonesia Asri sebagai bentuk perang terhadap persoalan sampah nasional.
Untuk menyukseskan gerakan tersebut, Hanif menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Ia mengingatkan agar predikat kota bersih tidak hanya berhenti pada penilaian, tetapi juga dibarengi dengan kesadaran warga dalam memilah, memilih, dan mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
“Jangan sampai kotanya bersih, tapi kesadaran masyarakatnya masih rendah. Ini harus berjalan beriringan,” pungkasnya. (*)













