DIGTALPOS.com, Mahakam Ulu — Kelangkaan beras yang melanda Mahakam Ulu (Mahulu) pada pertengahan 2025 menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Bagi Bupati Mahulu, Angela Idang Belawan, momentum ini bukan sekadar tantangan, tetapi titik balik untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pembangunan pangan yang selama ini berjalan.
Angela menegaskan bahwa ketergantungan Mahulu terhadap pasokan beras dari luar daerah sudah berada pada level yang harus segera dibenahi. “Kajian kita jelas: ketergantungan pasokan luar terlalu tinggi. Ini tidak boleh terus terjadi,” tegasnya.
Menurutnya, kemampuan Mahulu untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri merupakan fondasi penting bagi stabilitas logistik, keamanan pasokan, dan kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan tersebut.
Sebagai respons cepat, Pemerintah Kabupaten Mahulu mulai menjalankan sejumlah langkah strategis. Program perluasan areal persawahan dan pembukaan lahan baru kini digencarkan. Upaya tersebut dipadukan dengan penyediaan benih unggul, modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pendampingan intensif kepada petani lokal.
Dengan kondisi geografis Mahulu yang memiliki banyak wilayah terpencil dan akses logistik yang menantang, peningkatan produksi pangan lokal menjadi kebutuhan mendesak. Pemkab ingin memastikan bahwa masyarakat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada suplai dari luar yang rentan terganggu oleh faktor cuaca, transportasi, hingga dinamika pasar.
Angela juga menekankan bahwa ketahanan pangan bukan hanya proyek pemerintah, tetapi gerakan kolektif. “Ini bukan hanya program pemerintah, tetapi gerakan bersama. Ketahanan pangan hanya tercapai jika masyarakat ikut terlibat,” ujarnya.
Sebab itu, Pemkab Mahulu mengoptimalkan peran kampung, lembaga adat, dan komunitas lokal dalam pengembangan lahan pertanian. Pemerintah juga menggandeng pemerintah provinsi, lembaga teknis, dan berbagai mitra lintas sektor untuk memperkuat koordinasi dalam pengelolaan potensi lahan yang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal.
Dengan kebijakan baru yang lebih terarah, Pemkab Mahulu menargetkan terbentuknya sistem pangan daerah yang lebih resilien dan adaptif terhadap berbagai risiko. Pemerintah berharap fokus jangka panjang terhadap kemandirian pangan dapat mengurangi ketergantungan pasokan luar sekaligus memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekonomi petani.
Krisis beras 2025 menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan adalah pilar utama pembangunan daerah. Bagi Mahulu, inilah momentum untuk bangkit, memperkuat produksi sendiri, dan memastikan bahwa setiap warga memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan berkelanjutan. (Adv)













