DIGTALPOS.com, Kutai Timur – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutai Timur (Kutim) menegaskan bahwa peran ayah dan ibu dalam keluarga harus berjalan seimbang untuk menciptakan tumbuh kembang anak yang optimal, terutama dari sisi psikologis. Penekanan ini kembali disampaikan DPPPA Kutim sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga dan menekan potensi kerentanan sosial di masyarakat.
Kepala DPPPA Kutim, Idham Cholid, menuturkan bahwa selama ini sebagian besar masyarakat masih menganggap pengasuhan anak adalah tanggung jawab utama seorang ibu. Padahal, menurutnya, ayah memegang peranan yang tidak kalah penting dalam membentuk karakter, rasa aman, dan kepercayaan diri anak.
“Bukan hanya ibu yang berperan besar dalam pengasuhan. Ayah juga punya kontribusi signifikan dalam membangun pondasi emosional dan mental anak. Ketika keduanya bersinergi, peran pengasuhan menjadi lebih kuat sehingga ketahanan keluarga dapat tercipta,” jelas Idham, belum lama ini.
Kata Idham, anak yang tumbuh dalam keluarga dengan pola pengasuhan seimbang, akan lebih mudah mengembangkan kemampuan sosial, disiplin diri, hingga kecerdasan emosional. Idham menegaskan bahwa figur ayah yang hadir secara aktif bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, panutan, dan sumber dukungan emosional.

“Ketika peran ayah dan ibu seimbang serta saling suportif, fondasi keluarga menjadi lebih kokoh. Dampak positifnya langsung terasa pada perkembangan psikologis anak. Mereka tumbuh lebih percaya diri, merasa dicintai, dan memiliki kontrol diri yang lebih baik,” tuturnya.
Sebagai bentuk komitmen, DPPPA Kutim terus melakukan kampanye, sosialisasi, dan penguatan kapasitas keluarga melalui program-program pengasuhan berbasis kesetaraan peran. Lewat inisiatif tersebut, pihaknya berharap para ayah semakin terdorong menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Idham juga menekankan bahwa keseimbangan peran ayah dan ibu bukan hanya berdampak pada keluarga, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas generasi penerus bangsa.
“Keseimbangan inilah yang kami yakini akan melahirkan generasi kuat dan berkarakter. Ketika keluarga menjadi lingkungan pertama yang harmonis dan mendukung, maka akan lahir sumber daya manusia yang tangguh, berakhlak mulia, dan mampu membawa bangsa menuju kemajuan,” pungkasnya. (adv)













