DIGTALPOS.com, Bontang – Komitmen Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang dalam membangun masyarakat melalui literasi kembali membuahkan hasil membanggakan. Belum lama ini, DPK Bontang meraih Penghargaan Terbaik II dalam Pelaksanaan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) tingkat kabupaten/kota se-Kalimantan Timur.
Penghargaan prestisius ini diberikan dalam rangkaian kegiatan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Timur, yang menjadi ajang apresiasi atas inovasi dan dedikasi perpustakaan daerah dalam menjalankan fungsi transformasi sosial berbasis literasi.
Kepala DPK Bontang, Retno Febriaryanti, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas penghargaan tersebut. Ia menekankan bahwa pencapaian ini bukan semata-mata simbol, melainkan dorongan untuk terus mengembangkan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat.
“Melalui TPBIS, kami ingin menjadikan perpustakaan sebagai ruang inklusif yang tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui pelatihan keterampilan, pelibatan komunitas, serta akses terhadap informasi dan teknologi,” ujar Retno saat ditemui di kantornya, Rabu (09/07/2025).
Retno menegaskan bahwa program TPBIS yang dijalankan DPK Bontang sejalan dengan visi misi Pemkot Bontang, khususnya misi pertama yang menekankan pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Sebagai implementasi nyata dari program inklusif ini, DPK Bontang telah menggelar berbagai kegiatan pemberdayaan. Di antaranya pelatihan barista, public speaking, program Bontang Techno Hub, serta pelatihan keterampilan lainnya yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.
“Kami berharap ke depan, kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung secara konsisten. Gedung Bontang Creative HUB kami dorong menjadi ruang terbuka untuk mendorong kreativitas, inovasi, dan kemandirian masyarakat,” tambahnya.
Retno juga menyoroti pentingnya menjangkau seluruh elemen masyarakat, termasuk kelompok rentan, agar perpustakaan benar-benar menjadi tempat yang ramah dan inklusif bagi semua kalangan.
“Perpustakaan harus menjadi ruang hidup yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat. Semoga ke depan, kami bisa menjangkau lebih banyak warga dan menjadikan literasi serta inklusi sebagai kekuatan transformasi nyata di Bontang,” tutupnya.
Dengan pendekatan menyeluruh berbasis inklusi sosial, DPK Bontang membuktikan bahwa perpustakaan bisa berperan lebih besar dari sekadar tempat membaca, yakni sebagai motor penggerak perubahan dan kemajuan masyarakat. (*)













