Industri Tekstil Kian Terpuruk, Lima Pabrik Tutup, Ribuan Pekerja Terancam PHK

Industri Tekstil Kian Terpuruk: Lima Pabrik Tutup, Ribuan Pekerja Terancam PHK
Ilustrasi pekerja pabrik. (ist)

DIGTALPOS.com, Jakarta – Industri tekstil nasional kembali diterpa badai besar. Para pelaku usaha menyebut sektor hulu kini mengalami penurunan produksi paling signifikan dalam satu dekade terakhir. Hingga 2025, tercatat lima pabrik tekstil resmi menghentikan kegiatan produksinya, bahkan menutup usaha sepenuhnya. Kondisi tersebut menjadi alarm keras bahwa gejala deindustrialisasi di sektor tekstil benar-benar terjadi, bukan lagi sekadar ancaman.

Tidak hanya berhenti pada tutupnya pabrik, dampaknya juga telah menyentuh para pekerja. Diperkirakan sebanyak 3.000 pekerja harus terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) setelah perusahaan-perusahaan tersebut tidak sanggup lagi bertahan menghadapi tekanan pasar.

Dihimpun dari berbagai sumber, kelima pabrik tersebut antara lain:

PT Polychem Indonesia, produsen tekstil di Karawang

PT Polychem Indonesia di Tangerang

PT Asia Pacific Fibers, produsen serat polyester di Karawang

PT Rayon Utama Makmur, bagian dari Sritex Group, produsen serat rayon

PT Susilia Indah Synthetics Fiber Industries (Sulindafin), produsen serat & benang polyester di Tangerang

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, menjelaskan bahwa penutupan perusahaan-perusahaan tersebut bukan terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, faktor utama kerugian besar yang dialami industri adalah banjirnya produk impor dengan harga dumping, terutama berupa kain dan benang yang membanjiri pasar domestik.

“Tutupnya lima perusahaan tersebut disebabkan kerugian serius akibat penjualan yang tidak maksimal di pasar domestik. Produk impor dengan harga dumping menjadi faktor utama,” ujar Farhan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/11/2025).

Kondisi saat ini pun belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Farhan mengungkapkan bahwa enam pabrik lainnya kini beroperasi dengan kapasitas di bawah 50%, bahkan sejumlah lini produksi mulai berjalan secara on-off. Sebanyak lima mesin polimerisasi sudah berhenti total, tidak lagi menghasilkan produksi.

Farhan menegaskan, ancaman penutupan pabrik tidak berhenti sampai di sini. Bila tidak ada intervensi kebijakan, tahun 2026 diprediksi akan menjadi titik krisis berikutnya.

“Akan ada penutupan pabrik lain tahun 2026 jika pemerintah tidak mengontrol dan memberikan transparansi terkait penerima kuota impor. Data impor itu pasti tercatat di sistem bea cukai, pemerintah tinggal membuka saja ke publik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kurangnya transparansi mengenai kuota impor membuat produsen dalam negeri tidak bisa menyusun rencana produksi, sehingga seluruh lini bisnis menjadi tidak menentu. Situasi ini membuat asosiasi semakin yakin bahwa proses deindustrialisasi tengah berlangsung secara nyata.

Meski demikian, Farhan mengapresiasi langkah Kementerian Keuangan yang mulai bergerak menghentikan praktik impor ilegal, terutama melalui investigasi impor barang thrifting. Ia meyakini penyelidikan tersebut dapat membuka tabir jaringan pelaku impor nakal yang selama ini merugikan negara dan industri.

“Dalam impor thrifting itu bisa ketahuan siapa pengimpornya hingga backing-nya. Aparat hukum bisa menelusuri siapa yang menyebabkan kerugian negara. Kami yakin birokrat yang terlibat pun sebenarnya sudah saling terafiliasi,” tutup Farhan. (*)

Penulis: RedEditor: Redaksi
news-0712-mu

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

judi bola online

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

ayowin

mahjong ways

judi bola online

8941

8942

8943

8944

8945

8946

8947

8948

8949

8950

8951

8952

8953

8954

8955

9001

9002

9003

9004

9005

9006

9007

9008

9009

9010

9011

9012

9013

9014

9015

10031

10032

10033

10034

10035

10036

10037

10038

10039

10040

10041

10042

10043

10044

10045

10101

10102

10103

10104

10105

10106

10107

10108

10109

10110

10111

10112

10113

10114

10115

8956

8957

8958

8959

8960

8961

8962

8963

8964

8965

8966

8967

8968

8969

8970

9016

9017

9018

9019

9020

9021

9022

9023

9024

9025

9026

9027

9028

9029

9030

10046

10047

10048

10049

10050

10051

10052

10053

10054

10055

10056

10057

10058

10059

10060

10116

10117

10118

10119

10120

10121

10122

10123

10124

10125

10126

10127

10128

10129

10130

9036

9037

9038

9039

9040

9041

9042

9043

9044

9045

8876

8877

8878

8879

8880

8996

8997

8998

8999

9000

9046

9047

9048

9049

9050

9051

9052

9053

9054

9055

10061

10062

10063

10064

10065

10066

10067

10068

10069

10070

10131

10132

10133

10134

10135

10136

10137

10138

10139

10140

10001

10002

10003

10004

10005

10006

10007

10008

10009

10010

10011

10012

10013

10014

10015

10016

10017

10018

10019

10020

10021

10022

10023

10024

10025

10026

10027

10028

10029

10030

10141

10142

10143

10144

10145

10146

10147

10148

10149

10150

10071

10072

10073

10074

10075

10076

10077

10078

10079

10080

10081

10082

10083

10084

10085

10151

10152

10153

10154

10155

10156

10157

10158

10159

10160

10161

10162

10163

10164

10165

10086

10087

10088

10089

10090

10091

10092

10093

10094

10095

10096

10097

10098

10099

10100

news-0712-mu